Produsen Lokal Ramai Berekspansi ke Pasar Asia Tenggara (1)

Tahun ini, pasar farmasi nasional diperkirakan terus tumbuh mencapai Rp 49 triliun. Angka itu meningkat sebesar 14% dibandingkan realisasi tahun 2011 sebesar Rp 43 triliun. Proyeksi itu dikatakan sangat tinggi mengingat pertumbuhan rata-rata industri farmasi dunia hanya mencapai 3% per tahun.

Hingga 2015, pasar farmasi di Asia Tenggara akan jauh mengungguli kawasan lainnya dengan pertumbuhan rata-rata 13-16%. Nilai pasar diprediksi akan mencapai US$ 290-305 miliar, berdasarkan data IMS Health.

Pertumbuhan bisnis obat-obatan terutama di Indonesia, China, India, Thailand, dan Vietnam juga lebih besar dibanding pasar farmasi negara Eropa yang hanya bertumbuh rata-rata sebesar 1-3% dengan nilai pasar US$160-180 miliar pada tahun 2010-2015.

Pasar farmasi Asia Tenggara juga masih lebih unggul dibandingkan kawasan Amerika Serikat yang senilai US$ 330-345 atau tumbuh setara 1-3%. Sementara negara maju di Asia, Jepang, pertumbuhannya sekitar 3-5% atau sebesar US$ 100-105.  

Nilai prediksi bisnis farmasi tiga tahun lagi di Asia Tenggara itu juga mencapai sekitar sepertiga dari total bisnis farmasi global. IMS Health memperkirakan pasar industri farmasi dunia diharapkan tumbuh lebih dari US$ 1,1 triliun di 2015. 


Sumber: IMS Health, Market Prognosis, Apr 2011
Potensi pertumbuhan atraktif yang bakal diperoleh industri farmasi dunia itu mendorong perusahaan farmasi nasional terus meningkatkan daya saing usahanya. Salah satunya dengan melakukan ekspansi pasar obat ke negara-negara tetangga bahkanmenerobos pasar Eropa dan Afrika.

Indofarma, sebagai produsen obat generik dengan market share terbesar (17,59%) telah menjajaki kerja sama dengan pemerintah Kazakhstan untuk mengekspor obat-obatan kenegeri itu secara bertahap. Tahap awal, perseroan siap mendistribusikan 20 jenis obat di awal tahun 2013. Sebelumnya telah berhasil menandatangani kontrak sebanyak 300 jenis obat dari Kazakshstan dan tengah dalam proses registrasi.


"Kami akan ekspor 20 jenis obat di awal tahun depan. Tapi, untuk volume dan nilai ekspor belum bisa ditentukan," kata Djakfarudin Junus, Direktur Utama Indofarma, di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Menurutnya, melalui aksi ini, perseroan bakal membuka pintu pemasaran ke negara lain di kawasan bekas Uni Soviet, Asia Tengah, dan Rusia. Selain itu, tahun 2013 juga akan menjadi awal bagi Indofarma untuk mulai memasarkan obat-obatan ke negara Vietnam dan Kamboja. Saat ini, pihaknya tengah mendaftarkan beberapa jenis obat kepada pemerintah kedua negara itu.


Dengan perluasan pasar ekspor ASEAN dan Asia Tengah (Kazakhstan), Djakfarudin optimistis mampu mencapai penjualan Rp 4,25 triliun dalam 5 tahun ke depan. Proyeksi jangka panjang ini naik hampir 4 kali lipat dibandingkan realisasi penjualan 2011 sebesar Rp 1,2 triliun.


"Bila ini terealisasi, potensi pertumbuhan perseroan dapat meningkat 40-45% di tahun 2013 dari target proyeksi pertumbuhan sepanjang tahun ini sebesar 25%," ungkap Elfiano Rizaldi, Direktur Pemasaran dan Riset Indofarma.


Ekspansi itu akan mendorong perseroan untuk melipatgandakan nilai ekspor menjadi Rp 30 miliar di 2012. Selama ini, Indofarma telah memasuki pasar beberapa negara yakni  Yordania, Nigeria, Singapura, dan Afganistan, Filipina, dan Irak dengan nilai ekspor baru mencapai Rp 20 miliar hingga semester I 2012. Untuk memompa volume ekspor obat generik ke luar negeri, Indofarma tengah menjajaki pasar-pasar potensial lain, yakni Myanmar, Kamerun, dan Pantai Gading (Afrika).


next page  |

Top Ad 728x90