Optimisme konsumen online Indonesia terus meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya Indeks Kepercayaan Konsumen dari 117 poin persentase di kuartal pertama tahun ini menjadi 119 pada kuartal kedua. Demikian menurut temuan Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions Q2 2016 yang dirilis oleh Nielsen baru-baru ini.
Dua indikator Keyakinan Konsumen pada konsumen Indonesia meningkat, yaitu dalam hal Prospek Lapangan Pekerjaan dimana 7 dari 10 konsumen (meningkat tiga poin persentase dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini) menyatakan yakin bahwa prospek lapangan kerja dalam 12 bulan ke depan akan baik atau sangat baik, dan dalam hal Keinginan Berbelanja dengan skor 54 persen (meningkat dua poin persentase dibandingkan dengan kuartal sebelumnya).
Sementara itu indikator Kondisi Keuangan Pribadi sedikit menurun namun stabil dengan 81 persen, turun satu poin persentase dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Persepsi konsumen online Indonesia mengenai keadaan resesi ekonomi juga terus membaik sejak akhir tahun lalu. Persentase konsumen yang setuju bahwa Negara sedang berada dalam resesi ekonomi turun dari 69 persen di kuartal keempat 2015 menjadi 58 persen di kuartal pertama tahun ini, dan pada kuartal kedua tahun ini angkanya menurun lagi menjadi 51 persen.
"Konsumen Indonesia perlahan meraih kembali kepercayaan dirinya dalam tiga kuartal terakhir, ini merupakan indikasi yang baik bagi para pelaku industri.” ujar Agus Nurudin, Managing Director Nielsen Indonesia. “Para pemilik merek, produsen dan peritel harus jeli menangkap peluang untuk meraih konsumen dengan menawarkan keuntungan bagi konsumen yang didasari oleh pemahaman menyeluruh atas apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen
"Keadaan Ekonomi, Kriminalitas, dan Keseimbangan Antara Hidup dan Pekerjaan ada di urutan tiga teratas kekhawatiran utama konsumen Indonesia pada kuartal ini. Persentase konsumen yang sangat khawatir akan Keadaan Ekonomi sedikit menurun pada kuartal ini menjadi 38 persen dari 40 persen di kuartal pertama, namun kekhawatiran akan Kriminalitas justru meningkat dimana 20 persen menyatakan khawatir dibandingkan dengan 17 persen di kuartal sebelumnya.
Sementara itu kekhawatiran mengenai Keseimbangan antara Hidup dan Pekerjaan serta Kesehatan turun menjadi 15 persen pada kuartal ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Dalam hal penggunaan dana cadangan setelah pemenuhan kebutuhan pokok untuk berhemat, pada kuartal ini 70 persen konsumen menyatakan menggunakannya untuk menabung, 43 persen menggunakannya untuk berlibur dan 32 persen menggunakannya untuk berinvestasi di saham atau reksadana.
Di sisi lain, dalam hal penghematan biaya rumah tangga tren kuartal kedua tahun ini serupa dengan kuartal sebelumnya, dengan 47 konsumen menyatakan memotong biaya hiburan di luar rumah, 46 persen menunda membeli teknologi baru dan 45 persen mengurangi belanja baju baru.
Menurut Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions Q2 2016, keyakinan konsumen di seluruh dunia tidak mengalami perubahan dengan tetap berada pada indeks 98, sama dengan kuartal pertama tahun ini. Di wilayah Amerika Utara, keyakinan konsumen di Amerika Serikat berada pada indeks 113, meningkat tiga poin dari kuartal pertama. Di Eropa, beberapa minggu sebelum referendum Inggris untuk meninggalkan Brexit, keyakinan konsumen stabil di angka 79 persen, meningkat satu poin dari kuartal pertama.
Di wilayah Asia Pasifik, keyakinan konsumen relatif stabil di angka 107 persen, meningkat satu poin dari kuartal sebelumnya. Sementara itu wilayah Amerika Latin juga tercatat stabil, tidak berubah dari angka indeks 78 seperti di kuartal pertama. Wilayah Timur Tengah / Afrika mencatat penurunan satu poin persentase dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini, dengan 89 persen. Keadaan Ekonomi tetap menjadi kekhawatiran utama konsumen global, dan terorisme menjadi kekhawatiran utama di wilayah Eropa.
Smescopromo
Although Indonesia’s economic growth slowed further in 2014, there is optimism that growth will accelerate in 2015 despite sluggish global economic conditions (curbing Indonesia’s export performance) and Bank Indonesia’s relatively high interest rate environment.
Indonesia’s central bank has raised its BI rate several times over the past one and a half years in an effort to combat high inflation (caused by fuel price hikes), curb capital outflows ahead of US monetary tightening, limit the current account deficit and support the rupiah.
Indonesia’s central bank has raised its BI rate several times over the past one and a half years in an effort to combat high inflation (caused by fuel price hikes), curb capital outflows ahead of US monetary tightening, limit the current account deficit and support the rupiah.
Bank Indonesia (BI) mencatat, keyakinan konsumen pada bulan Januari menguat, terindikasi dari nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 120,2 atau meningkat dari 116,5 pada bulan sebelumnya.
Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs mengatakan, penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya optimisme konsumen terhadap kondisi enam bulan mendatang.
Selain penurunan harga BBM bersubsidi di bulan ini, faktor lain yang mendorong menguatnya keyakinan konsumen adalah banyaknya proyek pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan pemerintah serta perkiraan kondisi ekonomi yang semakin membaik.
Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs mengatakan, penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya optimisme konsumen terhadap kondisi enam bulan mendatang.
Selain penurunan harga BBM bersubsidi di bulan ini, faktor lain yang mendorong menguatnya keyakinan konsumen adalah banyaknya proyek pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan pemerintah serta perkiraan kondisi ekonomi yang semakin membaik.
The latest Consumer Confidence Survey released by Indonesia’s central bank indicated that Indonesian consumers were more optimistic in January 2015 (compared to the previous month) on the back of recent fuel price cuts.
The index, based on a total of 4,600 households across 18 major Indonesian cities, climbed to 120.2 points in January, up from 116.5 in the preceding month (a score above 100 signals consumer optimism). In December the index had declined due to higher administered fuel prices.
The index, based on a total of 4,600 households across 18 major Indonesian cities, climbed to 120.2 points in January, up from 116.5 in the preceding month (a score above 100 signals consumer optimism). In December the index had declined due to higher administered fuel prices.
The economy of Indonesia expanded 5.02 percent year-on-year (y/y) to IDR 8,354 trillion (USD $664 million) in 2014, the nation’s slowest annual growth pace since 2009, according to the latest data from Statistics Indonesia (BPS).
As such, GDP growth failed to achieve the central government’s 5.5 percentage point growth target that was set in the 2014 State Budget. Indonesia’s economic growth has been slowing since 2011 when it still posted a 6.5 percentage point growth rate (y/y). However, growth is expected to rebound from here.
There are a number or reasons - both external and domestic - that explain why Indonesia’s economic expansion slowed to 5.02 percent in 2014.
As such, GDP growth failed to achieve the central government’s 5.5 percentage point growth target that was set in the 2014 State Budget. Indonesia’s economic growth has been slowing since 2011 when it still posted a 6.5 percentage point growth rate (y/y). However, growth is expected to rebound from here.
There are a number or reasons - both external and domestic - that explain why Indonesia’s economic expansion slowed to 5.02 percent in 2014.
Akses masyarakat Indonesia terhadap layanan kesehatan dan produk farmasi yang masih relatif rendah mengakibatkan pertumbuhan industri farmasi nasional lambat. Harga obat yang dinilai mahal karena sebesar 90% bahan baku obat masih diimpor serta sistem jaminan kesehatan nasional belum berjalan optimal.
Pada 2014, kinerja dan pertumbuhan industri farmasi Indonesia melambat 8 persen dengan nilai transaksi sekitar Rp 56 triliun. International Pharmaceutical Manufactures Grup (IPMG) menilai, kondisi tersebut disebabkan rendahnya belanja obat dan kesehatan masyarakat.
Pada 2014, kinerja dan pertumbuhan industri farmasi Indonesia melambat 8 persen dengan nilai transaksi sekitar Rp 56 triliun. International Pharmaceutical Manufactures Grup (IPMG) menilai, kondisi tersebut disebabkan rendahnya belanja obat dan kesehatan masyarakat.
Investor asal Eropa optimistis bisnis di Indonesia bakal cerah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Namun survei membuktikan, Indonesia bukanlah negara primadona di kawasan bagi pemilik modal Eropa.
Jajak pendapat Business Confidence Index (BCI) 2014 menyimpulkan, para pengusaha asal Eropa di Indonesia melihat Masyarakat Ekonomi (MEA) ASEAN bakal menguntungkan bagi pertumbuhan bisnis pada 2015. Namun, Indonesia tidak menjadi primadona tujuan modal Eropa di antara negara-negara ASEAN.
Jajak pendapat Business Confidence Index (BCI) 2014 menyimpulkan, para pengusaha asal Eropa di Indonesia melihat Masyarakat Ekonomi (MEA) ASEAN bakal menguntungkan bagi pertumbuhan bisnis pada 2015. Namun, Indonesia tidak menjadi primadona tujuan modal Eropa di antara negara-negara ASEAN.
Singapura merupakan tujuan utama investasi Uni Eropa di ASEAN. Crooks memperkirakan, negara-negara tetangga Indonesia lebih berhasil dalam menciptakan iklim usaha yang menarik modal Eropa.
“Daya tarik investasi itu sangat kompetitif. Beberapa negara menawarkan insentif, mereka menawarkan infrastruktur yang sangat modern, keringanan pajak, akses ke pasar,” ujarnya.
“Daya tarik investasi itu sangat kompetitif. Beberapa negara menawarkan insentif, mereka menawarkan infrastruktur yang sangat modern, keringanan pajak, akses ke pasar,” ujarnya.
Pemerintah akan membuka akses masuk bagi investor asing di sektor minyak
dan gas (migas), farmasi, pendidikan serta jasa transportasi melalui
revisi peraturan Daftar Negatif Investasi (DNI). Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady mengatakan
revisi DNI itu bertujuan agar kebijakan investasi pada 4 sektor
tersebut lebih terbuka dibanding sebelumnya.
“Revisi DNI pada 4 sektor itu sebagai seleksi bagi investor dan teknologi yang akan masuk ke Indonesia. Industri dengan teknologi usang dan membutuhkan sumber energi besar akan ditolak,” ujar Edy kepada Finance Today.
Edy mencontohkan sektor farmasi. Selama ini Indonesia menjadi pengimpor obat-obatan yang cukup besar. Padahal kebutuhan obat dalam negeri cukup banyak. “Farmasi merupakan tulang punggung industri kesehatan, sehingga pemerintah mendorong pengembangan industri ini dengan membuka peluang asing untuk masuk,” katanya.
Selain farmasi, industri migas juga menjadi perhatian pemerintah. Sektor migas nasional perlu investasi besar karena pengelolaan migas di Tanah Air masih rendah. Namun untuk sektor ini, menurut Edy, pemerintah akan melakukan pembenahan regulasi yang lebih baik. “Kita tetap akan memberikan peluang besar bagi industri dalam negeri terlebih dulu, kemudian asing,” katanya.
--------------------------------------------------- Simak juga:
- 2015: Pasar Farmasi Akan Tumbuh 11,8% Jadi US$ 4,6 Miliar
- Realisasi Pertumbuhan Industri Farmasi 2014
---------------------------------------------------
Dua sektor lain yang juga akan dibuka ‘kerannya‘ untuk investor adalah sektor transportasi dan pendidikan. Namun, Edy tak merinci bagaimana klausul bagi investor asing yang akan berinvestasi pada dua sektor tersebut.
Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memperkirakan revisi DNI tuntas pada kuartal III 2013. Saat ini draf revisi DNI dalam tahap konsultasi antara kementerian terkait dan masuk pembahasan tim nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi (PEPI) di bawah koordinasi Menko Perekonomian.
Menurut Chatib reivisi DNI untuk mendorong penanaman modal asing (PMA) masuk ke wilayah timur Indonesia. Revisi DNI salah satunya mensyaratkan investasi harus di luar Jawa.
Dengan dibukanya beberapa sektor di DNI bukan berarti tidak ada ruang bagi pengusaha Indonesia. Sebab, pemerintah akan memberi beberapa persyaratan tambahan untuk melindungi Usaha Kecil Menengah (UKM) di dalam negeri.
Berdasarkan data BKPM, penanaman modal asing di Indonesia sepanjang 2012 mencapai US$ 24,6 miliar. Realisasi tersebut masih dominasi di Jawa Barat sebesar US$ 4,2 miliar, DKI Jakarta US$ 4,1 miliar, Banten US$ 2,7 miliar, Jawa Timur US$ 2,3 miliar, dan Kalimantan Timur sebesar US$ 2 miliar.
Sedangkan lima besar negara penanaman modal asing 2012 masih didominasi Singapura sebesar US$ 4,9 miliar, Jepang US$ 2,5 miliar, Korea Selatan US$ 1,9 miliar, Amerika Serikat sebesar US$ 1,2 miliar, dan Mauritius sebesar US$ 1,1 miliar.
| next page: Revisi DNI Perlu Kajian Lebih Jauh |
Baca juga :
Hadapi ASEAN Integrity, Pemerintah Ubah Aturan DNI Farmasi
“Revisi DNI pada 4 sektor itu sebagai seleksi bagi investor dan teknologi yang akan masuk ke Indonesia. Industri dengan teknologi usang dan membutuhkan sumber energi besar akan ditolak,” ujar Edy kepada Finance Today.
Edy mencontohkan sektor farmasi. Selama ini Indonesia menjadi pengimpor obat-obatan yang cukup besar. Padahal kebutuhan obat dalam negeri cukup banyak. “Farmasi merupakan tulang punggung industri kesehatan, sehingga pemerintah mendorong pengembangan industri ini dengan membuka peluang asing untuk masuk,” katanya.
Selain farmasi, industri migas juga menjadi perhatian pemerintah. Sektor migas nasional perlu investasi besar karena pengelolaan migas di Tanah Air masih rendah. Namun untuk sektor ini, menurut Edy, pemerintah akan melakukan pembenahan regulasi yang lebih baik. “Kita tetap akan memberikan peluang besar bagi industri dalam negeri terlebih dulu, kemudian asing,” katanya.
--------------------------------------------------- Simak juga:
- 2015: Pasar Farmasi Akan Tumbuh 11,8% Jadi US$ 4,6 Miliar
- Realisasi Pertumbuhan Industri Farmasi 2014
---------------------------------------------------
Dua sektor lain yang juga akan dibuka ‘kerannya‘ untuk investor adalah sektor transportasi dan pendidikan. Namun, Edy tak merinci bagaimana klausul bagi investor asing yang akan berinvestasi pada dua sektor tersebut.
Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memperkirakan revisi DNI tuntas pada kuartal III 2013. Saat ini draf revisi DNI dalam tahap konsultasi antara kementerian terkait dan masuk pembahasan tim nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi (PEPI) di bawah koordinasi Menko Perekonomian.
Menurut Chatib reivisi DNI untuk mendorong penanaman modal asing (PMA) masuk ke wilayah timur Indonesia. Revisi DNI salah satunya mensyaratkan investasi harus di luar Jawa.
Dengan dibukanya beberapa sektor di DNI bukan berarti tidak ada ruang bagi pengusaha Indonesia. Sebab, pemerintah akan memberi beberapa persyaratan tambahan untuk melindungi Usaha Kecil Menengah (UKM) di dalam negeri.
Berdasarkan data BKPM, penanaman modal asing di Indonesia sepanjang 2012 mencapai US$ 24,6 miliar. Realisasi tersebut masih dominasi di Jawa Barat sebesar US$ 4,2 miliar, DKI Jakarta US$ 4,1 miliar, Banten US$ 2,7 miliar, Jawa Timur US$ 2,3 miliar, dan Kalimantan Timur sebesar US$ 2 miliar.
Sedangkan lima besar negara penanaman modal asing 2012 masih didominasi Singapura sebesar US$ 4,9 miliar, Jepang US$ 2,5 miliar, Korea Selatan US$ 1,9 miliar, Amerika Serikat sebesar US$ 1,2 miliar, dan Mauritius sebesar US$ 1,1 miliar.
| next page: Revisi DNI Perlu Kajian Lebih Jauh |
Baca juga :
Hadapi ASEAN Integrity, Pemerintah Ubah Aturan DNI Farmasi
Peneliti Indef, Eko Sulistiyanto, menilai revisi 4 sektor DNI itu menjadi
dilema, sehingga harus benar-benar dikaji lebih matang.
Pasalnya, banyak sektor
di Indonesia yang sangat menarik bagi investor. Pendidikan dan farmasi
merupakan sektor yang sangat mendesak untuk dikembangkan, karena bagian dari
penyediaan fasilitas publik dan kebutuhan dasar masyarakat.
Sedangkan untuk sektor migas, dalam jangka pendek akan menguntungkan, namun harus dipertimbangkan dampak jangka panjangnya, apakah masih menguntungkan Indonesia. “Belum dibuka saja sudah kalah (bersaing), apalagi kalau sudah dibuka. Jadi, ini harus benar-benar dipikirkan,” katanya.
Sedangkan untuk sektor migas, dalam jangka pendek akan menguntungkan, namun harus dipertimbangkan dampak jangka panjangnya, apakah masih menguntungkan Indonesia. “Belum dibuka saja sudah kalah (bersaing), apalagi kalau sudah dibuka. Jadi, ini harus benar-benar dipikirkan,” katanya.
Kalangan ekonom memperkirakan kenaikan upah minimum regional (UMR) pada 2013 akan mendorong laju inflasi hingga di atas 5%, lebih tinggi dari target pemerintah yang sebesar 4,9%.
.
.
Ekonom PT Bank Central Asia, David Sumual mengatakan, jika upah minimum regional naik menjadi sekitar Rp 2 juta per bulan atau naik sekitar 20%-30% dari UMR saat ini, maka kenaikan tersebut akan berdampak cukup signifikan terhadap laju inflasi. Apalagi, jika kenaikan tersebut berlaku untuk seluruh daerah bukan hanya DKI Jakarta.
"Kenaikan UMR ini bukan hanya berdampak langsung terhadap laju inflasi, tetapi menimbulkan dampak tidak langsung yang akan merembet ke banyak sektor," kata David.
Masih menempati urutan tiga teratas di antara negara-negara yang paling optimis di dunia. Lembaga survei Nielsen memaparkan, indeks kepercayaan konsumen di kuartal IV-2012 turun 2 poin menjadi 117 dibandingkan kuartal III-2012 sebesar 119 poin.
Meski turun, kepercayaan konsumen di Indonesia tetap stabil, bahkan masih tercatat paling optimistis di Asia Pasifik. Demikian berdasarkan hasil temuan Global Consumer Confidence Index Nielsen yang dipaparkan di Jakarta, (6/2).
Meski turun, kepercayaan konsumen di Indonesia tetap stabil, bahkan masih tercatat paling optimistis di Asia Pasifik. Demikian berdasarkan hasil temuan Global Consumer Confidence Index Nielsen yang dipaparkan di Jakarta, (6/2).
Index of Resilience oleh
MasterCard Worldwide Faktor penting sebagai penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah adanya pertumbuhan pada permintaan domestik. Indeks Ketahanan (Index of Resilience) yang dilakukan oleh MasterCard Worldwide mengevaluasi ketahanan kepercayaan konsumen dan kekuatan kepercayaan konsumen sebagai faktor yang menentukan potensi konsumsi domestik sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global di saat ekonomi global tengah mengalami perlambatan pertumbuhan.
Laporan ini mengungkapkan bahwa Hong Kong, Indonesia, Thailand, Filipina, India dan China berada dalam posisi yang baik dengan potensi terkuat untuk memanfaatkan konsumsi domestik sektor swasta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya Malaysia, Singapura, Vietnam, Arab Saudi dan Kuwait yang relatif kuat dalam hal kepercayaan konsumen berada dalam posisi lebih rentan terhadap perlambatan ekspor barang dagangan.
Pengamat Ekonomi dari
Center for Information and Development Studies (CIDES) Umar Juoro
memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2013 masih dapat tumbuh cukup
tinggi sekitar 6,4 persen terutama ditopang oleh investasi dan konsumsi
masyarakat.
"Peran
investasi semakin penting dengan besarnya PMA yang masuk ke Indonesia
dan PMDN. Pertumbuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar 8 persen
pada 2013," katanya dalam diskusi "Paparan Ekonomi dan Politik 2013", di
Jakarta, Kamis.
Menurut dia, pada umumnya orientasi investasi adalah pada pasar domestik seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat. "Relokasi
industri dari Cina adalah salah satu ciri dari peningkatan investasi
didorong oleh meningkatnya biaya produksi di Cina," kata dia.
Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 6,6% secara
tahunan di Desember 2012 dinilai belum berdampak pada biaya produksi farmasi,
menurut asosiasi industri. Hal itu karena pelemahan masih dalam batas yang
ditoleransi.
"Secara umum pelemahan rupiah sebesar 6,6% tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi, khususnya bahan baku," ujar Syamsul Arifin, Dewan Penasehat Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia kepada wartawan. Bahan baku menjadi unsur biaya produksi yang terkena dampak langsung fluktuasi kurs rupiah, karena 95% bahan baku farmasi Indonesia masih diimpor.
Menurut Syamsul kontribusi biaya bahan baku sekitar 30%-50% terhadap biaya produksi farmasi secara keseluruhan, dengan kondisi saat ini, harga bahan baku bisa naik 1%-3%.
"Secara umum pelemahan rupiah sebesar 6,6% tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya produksi, khususnya bahan baku," ujar Syamsul Arifin, Dewan Penasehat Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia kepada wartawan. Bahan baku menjadi unsur biaya produksi yang terkena dampak langsung fluktuasi kurs rupiah, karena 95% bahan baku farmasi Indonesia masih diimpor.
Menurut Syamsul kontribusi biaya bahan baku sekitar 30%-50% terhadap biaya produksi farmasi secara keseluruhan, dengan kondisi saat ini, harga bahan baku bisa naik 1%-3%.
Menjadi 1,35 Miliar Dollar AS
Omset Penjualan produsen farmasi asing di Indonesia tahun ini ditargetkan naik 12% menjadi US$ 1,35 miliar dibanding 2012. Menurut International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), kenaikan itu ditopang pertumbuhan volume penjualan.
Omset Penjualan produsen farmasi asing di Indonesia tahun ini ditargetkan naik 12% menjadi US$ 1,35 miliar dibanding 2012. Menurut International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), kenaikan itu ditopang pertumbuhan volume penjualan.
![]() |
| Luthfi Mardiansyah |
"Kenaikan itu juga mengikuti proyeksi pertumbuhan industri
farmasi nasional tahun ini," ujar Luthfi Mardiansyah, Ketua Umum IPMG.
Tahun ini, penjualan produsen farmasi di Indonesia ditargetkan mencapai US$ 5,4
miliar, naik 14,89% dibanding proyeksi tahun lalu US$ 4,7 miliar.
Luthfi menuturkan peningkatan penjualan produsen farmasi,
termasuk produsen asing, seiring makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan
kesehatan. "Kenaikan anggaran kesehatan oleh pemerintah juga mendukung
pertumbuhan penjualan produsen farmasi asing," tambahnya.
Fauzi Ichsan, Ekonom Senior Standard Chartered Bank Tahun 2013 diperkirakan kondisi ekonomi global akan membaik karena krisis Eropa terlihat mulai berakhir. Kondisi tersebut pun sedikit banyak akan berpengaruh ke kondisi ekonomi Indonesia. Fauzi Ichsan, ekonom senior Standard Chartered Bank, pun menyebutkan, ekonomi negara ini akan tumbuh hingga 6,5 % pada tahun 2013.
“Kita melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan naik ke 6,5 %, sementara tahun ini 6,3 %,” sebut Fauzi, di Jakarta.
Belanja Alkes dan Obat di Indonesia diperkirakan tumbuh 10,43% rata-rata per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) periode
2010-2014, menurut lembaga riset Frost & Sullivan. Pertumbuhan belanja alat kesehatan dan obat ditopang kenaikan jumlah penduduk serta pendapatan perkapita masyarakat Indonesia.Menurut data Frost & Sullivan, belanja alat kesehatan dan obat di Indonesia diproyeksikan naik menjadi US$ 2.452 per kapita di 2014 dari US$ 1.649 per kapita di 2010. Proyeksi kenaikan itu seiring dengan pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia.
Sebuah hasil survei multinasional "Contraception:
Looking for the Future" yang didukung oleh 812 responden berusia 20-35
tahun dari 8 negara di Asia, meliputi China, India, Indonesia, Korea Selatan,
Singapura, Thailand, Malaysia, dan Taiwan, menunjukkan 27% responden tidak
menggunakan kontrasepsi saat melakukan aktivitas seksual pertama kali.
Subscribe to:
Posts (Atom)













