Investigasi Produsen Obat Anestesi Tidak Berhenti di Kalbe Farma

Investigasi Produsen Obat Anestesi Tidak Berhenti di Kalbe Farma
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan telah mengirimkan surat instruksi agar PT Kalbe Farma Tbk. menghentikan produksi dua obat anestesi atau obat bius bermasalah yaitu Buvanest dan Asam Tranexamat.

Instruksi berlaku hingga ada hasil investigasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan. "Surat itu berlaku bagi Kalbe Farma hingga ada hasil investigasi," kata dia di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Senin, 23 Februari 2015.

BPOM Klaim 90% Buvanest Spinal Telah Ditarik

BPOM: 90 Persen Buvanest Spinal Telah Ditarik
illustrasi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut 90 persen lebih obat anestesi Buvanest Spinal 0.5 persen heavy produksi PT Kalbe Farma telah ditarik dari seluruh wilayah Indonesia.

"90 persen sudah masuk. Tapi jumlah pastinya belum diketahui, seharusnya Kalbe Farma sudah bisa laporkan angkanya dalam waktu dekat," kata Kepala BPOM Roy Sparringa dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu.

Kemasan Mirip Yang Berakibat Fatal

Kemasan Mirip Yang Berakibat Fatal
Sebagaimana dikutip di berbagai media, produk Buvanest Spinal 0,5 Heavy ditarik secara sukarela oleh Kalbe sebagai tindakan preventif. Selain dilakukan penarikan terhadap Buvanest secara nasional, Kalbe juga menarik Kalnex, merek dagang untuk asam tranexamat generik.

Belum jelas apakah tudingan Siloam bahwa Buvanest berisi Kalnex memang benar atau tidak, hal tersebut masih dalam proses pembuktian. Saat ini pihak Kalbe Farma masih menunggu hasil pengecekan produk bersama koordinasi dengan Kemenkes dan BPOM. BPOM sendiri menduga isi obat memang tertukar.

Kalbe: Buvanest dan Asam Tranexamat Sudah Ditarik Sepenuhnya

Buvanest dan Asam Tranexamat Sudah Ditarik Sepenuhnya
Setelah 8 hari penarikan obat, PT Kalbe Farma Tbk menjamin telah menarik seluruh obat penghilang rasa (anestesi) Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy 4 mililiter dan injeksi Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml dari para dokter spesialis dan rumah sakit di seluruh Indonesia. Namun, perusahaan tersebut mengakui belum semua obat sampai di Kantor Pusat Kalbe Farma di Jakarta hingga saat ini.

"Masalahnya tinggal produk yang di daerah tertentu. Butuh waktu untuk penarikan (dari daerah) ke pusat. Katakanlah penarikan dari Ambon, Maluku, atau Sulawesi Utara. Obatnya masih dalam perjalanan, tapi sudah ditarik dari semua dokter spesialis dan rumah sakit," ujar Head of Corporate Communications PT Kalbe Farma, Herda JT Pradsmadji, kepada CNN Indonesia, Kamis (19/2).

Analis: Dampak Penarikan Obat Pada Saham Kalbe Farma

Analis: Dampak Penarikan Obat Pada Saham Kalbe Farma
Pengaruh penarikan obat untuk anestesi milik PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tidak akan terasa pada kinerja keuangannya. Pasalnya penjualan KLBF tidak hanya di dukung oleh penjualan obat resep. Selain itu juga kemitraan dengan dokter dan RS telah terjalin puluhan tahun.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 16 Februari 2015, Kalbe telah mengakui melakukan penarikan sukarela secara nasional atas dua produknya yakni Buvanest Spinal 0,5 persen dan Asam Tranexamat Generik 500mg mulai tanggal 12 Februari 2015 sebagai langkah penjagaan mutu dan tanggung jawab preventif.

Kasus Buvanest Bisa Mengancam Saham Kalbe Farma

Kasus Buvanest Bisa Mengancam Saham Kalbe Farma
Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah mengatakan kasus penarikan obat anestesi Buvanest Spinal dan Asam Tranexamat Generik, keluaran PT. Kalbe Farma Tbk (KLBF) mempengaruhi minat investor pada saham emiten perusahaan farmasi tersebut.

Investor khawatir hal itu bakal berdampak negatif bagi kinerja keuangan perusahaan farmasi tersebut. Mereka memilih melepas kepemilikan saham tersebut sementara waktu. “Dalam kondisi tersebut, panic selling memang wajar terjadi,” katanya kepada wartawan.

Menghitung Kerugian Kalbe Farma Pasca Penarikan Bunavest Spinal

Menghitung Kerugian Kalbe Farma Pasca Penarikan Bunavest Spinal
PT Kalbe Farma Tbk. tengah menghitung dampak dari penarikan dua obat anestasi terhadap kinerja perseroan. Kalbe Farma menarik seluruh batch Buvanel Spinal 0,5 persen Heavy 4 ml dan Asam tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml batch no.629668 dan 630025 yang beredar sejak 12 Februari 2015.

Sekretaris Perusahaan dan Direktur Keuangan Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan perseroan masih menghitung dampak penarikan obat tersebut terhadap kinerja perseroan. “Saat ini prosesnya penarikannya masih terus berjalan,” kata Vidjongtius melalui pesan singkat, Selasa. 17 Februari 2015. Kabar yang beredar menyebutkan dua orang yang menjadi pasien di Rumah Sakit Siloam meninggal dunia pasca injeksi obat anestasi tersebut.

Tentang Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy

Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy
Berdasarkan informasi di laman resmi pusat perhimpunan dokter spesialis saraf Indonesia (Perdossi) yang dikutip Selasa, 17 Februari 2015 disebutkan Buvanest merupakan larutan isotonik, isobarik, steril yang mengandung bupivacaine HCl untuk anestesia lokal dan diberikan secara parenteral dengan injeksi.

Komposisi obat ini terdiri dari tiap ampul Buvanest 0,5 persen mengandung Bupivacaine HCl 5 mg/ml.

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat ini:

Yang Perlu Diketahui dari Anestesi

Yang Perlu Diketahui dari Anestesi
Farmakodinamik
Anestetik lokal menghambat pembentukan dan penjalaran impuls saraf dengan meningkatkan ambang eksitasi elektrik dalam saraf, memperlambat penyebaran impuls saraf, dan mengurangi kecepatan bangkitan aksi potensial. Secara umum, terjadinya anestesia dikaitkan dengan diameter, mielinisasi, dan kecepatan konduksi serat saraf yang dipengaruhi.

BPOM Bekukan Produksi dan Izin Edar Obat Bius Kalbe Farma

BPOM Bekukan Produksi dan Izin Edar Obat Bius Kalbe Farma
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan perusahaan farmasi PT Kalbe Farma Tbk telah melakukan kekeliruan dalam proses pengisian kandungan obat anestesi ke dalam kemasan produknya.

Kandungan asam Tranexamic yang merupakan bahan baku obat injeksi penghenti perdarahan dengan merek Kalnex tertukar atau tercampur dengan bahan baku obat injeksi anestesi merek Buvanest Spinal.

Akibat dari tertukarnya isi kandungan obat tersebut, dua orang pasien di RS Siloam Karawaci meninggal dunia usai disuntik Buvanest Spinal 0,5 persen Heavy pada Kamis 12 Februari lalu.

Kalbe Farma Tarik Buvanest Spinal Dari Peredaran

Dua orang pasien RS Siloam Karawaci meninggal dunia setelah mendapat injeksi obat bius yang salah. Dua pasien itu diinjeksi untuk kepentingan tindakan operasi.

Injeksi diberikan di bagian punggung sebelum operasi dilakukan. Setelah operasi selesai, pasien tiba-tiba saja kejang dan gatal-gatal. Sempat dimasukkan ke ruangan ICU, pasien akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Biofarma Raih Penghargaan Inovasi Pengembangan Obat

Biofarma Raih Penghargaan Inovasi Pengembangan Obat
PT Biofarma mendapatkan penghargaan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), atas peran aktifnya dalam melakukan inovasi untuk pengembangan obat dalam negeri. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani didampingi Menteri Kesehatan Nila Moeloek,  kepada Direktur Utama Biofarma, Iskandar.

Fokus Garap Pasar Indonesia PT Merck Tbk Siapkan Investasi 30 Miliar

Pasar farmasi Indonesia menjadi fokus bagi PT Merck Tbk dan PT Merck Chemical and Life Sciences (MCLS) karena potensinya sangat besar. Selain itu, Indonesia menjadi basis produksi Merck untuk kawasan ASEAN.

Saat ini, pabrik Merck di Indonesia memasok produk farmasi ke Filipina dan Singapura. Merck dan MCLS dikendalikan oleh Grup Merck, perusahaan farmasi global yang berbasis di Jerman.

Presiden Direktur Merck dan MCLS Martin Feulner menilai, memandang positif pemerintahan Joko Widodo yang dinilai mampu menarik banyak investor. Menurut dia, seringkali investor terhambat regulasi yang rumit. Pemerintahan saat ini menunjukan sikap positif dengan memperbaikinya. Salah satu cara yang dilakukan adalah membuat birokrasi transparan.

2015: Quadria Capital Realisasikan Investasi di SOHO Global Health

2015: Quadria Capital Realisasikan Investasi di SOHO Global Health
QUADRIA CAPITAL, perusahaan investasi terkemuka di Asia dalam bidang pelayanan kesehatan sepakat membangun kerja sama dengan PT SOHO Global Health (SOHO). Kesepakatan kerjasama tersebut direalisasikan dalam bentuk investasi di SOHO, perusahaan farmasi lokal terkemuka di Indonesia.
 

SOHO dalam rekam jejaknya, bersama dengan seluruh anak perusahaan secara konsisten mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan obat-obatan alami yang telah terbukti secara ilmiah, serta produk-produk-produk over-the-counter di Indonesia.

Melonjak, Belanja Bahan Baku Obat Kalbe Capai 7 Triliun

Belanja Bahan Baku Obat Kalbe Capai 7 Triliun
Kalbe Farma bersiap memborong bahan baku obat-obatan lebih banyak. Perusahaan ini menyediakan anggaran Rp 6 triliun-Rp 7 triliun. Alokasi dana ini lebih besar dari tahun lalu yakni Rp 5 triliun-Rp 6 triliun.

Kalbe Farma akan memakai dana jumbo itu untuk kebutuhan belanja bahan baku obat resep, obat generik tanpa merek, dan produk kesehatan. Targetnya, tiga produk itu bisa mencetak pertumbuhan penjualan double digit sepanjang tahun ini.

Ekspansi Fasilitas Produksi Indofarma Siapkan Rp 135 Miliar

Perusahaan farmasi milik negara PT Indofarma Tbk menyiapkan dana investasi Rp 135 miliar untuk ekspansi fasilitas produksi tahun depan. Menurut direksi perusahaan, dana investasi tersebut akan diperoleh dari hasil penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) sebesar Rp 160 miliar pada Desember 2014 lalu.

"Sebanyak Rp 95 miliar untuk pembangunan fasilitas FDC-TB, fasilitas betalaktam, fasilitas sterilisasi, fasilitas pilot plan, dan fasilitas gudang. Sisanya Rp 40 miliar untuk pembelian mesin dan alat," ujar Arief Budiman, Direktur Utama Indofarma.

Sidomuncul Berencana Revitalisasi Pabrik Farmasi di 2015

Sidomuncul Berencana Revitalisasi Pabrik Farmasi di 2015
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), emiten produsen jamu, berencana merevitalisasi pabrik farmasi PT Berlico Mulia Farma di Sleman, Yogyakarta. Revitalisasi pabrik itu rencananya dilakukan pada kuartal I tahun depan, setelah perseroan memperoleh hasil feasibility study (FS) yang tengah dilakukan.

"Perseroan ada rencana merevitalisasi pabrik Berlico, anak usaha yang baru saja kami akuisisi. Tapi saat ini perseroan sedang proses feasibility study mencakup luasan area, rencana investasi, maupun sumber dananya. Apabila semua itu rampung, proses pembangunan kami harap sudah bisa dilakukan pada Februari tahun depan," kata Tiur Simamora, Corporate Secretary Sido Muncul kepada wartawan, Selasa.

2015: Kimia Farma Targetkan Laba Bersih Rp 260 Miliar

Kimia Farma Targetkan Laba Bersih Rp 260 Miliar
Badan Usaha Milik Negara PT Kimia Farma (Persero) Tbk menargetkan laba bersih tahun ini sebesar Rp 260 miliar, tumbuh 10,6% dari proyeksi tahun lalu Rp 235 miliar. Menurut direksi perseroan, pertumbuhan laba bersih akan ditopang peningkatan produksi seiring dengan ekspansi serta perbaikan margin.

"Laba bersih sampai akhir tahun lalu belum bisa diinformasikan karena masih dalam perhitungan. Tapi untuk tahun ini kami targetkan Rp 260 miliar," ujar Rusdi Rosman, Direktur Utama Kimia Farma kepada redaksi.

Omset Kalbe Farma Diperkirakan Tak Capai Target

Omset Kalbe Farma Diperkirakan Tak Capai Target
Penjualan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), emiten produsen farmasi, hingga akhir 2014 diperkirakan tidak mencapai target, hanya tumbuh 8%-9% menjadi Rp 17,4 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 16 triliun. Alasannya, perseroan sebelumnya menargetkan sepanjang 2014 dapat mencetak penjualan meningkat hingga 11%-13% menjadi Rp 18,08 triliun.

Vidjongtius, Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma, mengatakan meski masih finalisasi, penjualan perseroan diperkirakan mencapai Rp 17 triliun sepanjang 2014. "Kami perkirakan Rp 17,0 triliun - Rp 17,4 triliun," tuturnya kepada redaksi.

Biofarma Luncurkan Program Paradigma Hidup Sehat

Perusahaan farmasi milik negara PT Biofarma yang berbasis di Bandung Jawa Barat, meluncurkan program Work-Life Balance (WLB) atau Paradigma Hidup Sehat pada 15 Januari 2015 di Bandung.
 

Program tersebut akan diterapkan kepada seluruh karyawan Bio Farma, yang merupakan suatu konsep kecerdasan moral dan motivasi, yang akan menciptakan keseimbangan dalam bekerja, manajemen diri, motivasi diri, dan tanggung Jawab.

Top Ad 728x90