,

2015: Pasar Farmasi Akan Tumbuh 11,8% Jadi US$ 4,6 Miliar

Pasar farmasi Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh 11,8% menjadi US$ 4,6 miliar atau setara Rp 56 triliun dibanding tahun lalu, menurut International Pharmaceutical Manufacture Group (IPMG). Perkiraan nilai pasar itu mencerminkan belanja farmasi sebesar US$ 19 per kapita per tahun, dengan perusahaan nasional menguasai 70% pasar.

Pasar Farmasi Akan Tumbuh 11,8%
Pasar farmasi Indonesia tahun ini diperkirakan tumbuh 11,8% menjadi US$ 4,6 miliar atau setara Rp 56 triliun dibanding tahun lalu, menurut International Pharmaceutical Manufacture Group (IPMG). Perkiraan nilai pasar itu mencerminkan belanja farmasi sebesar US$ 19 per kapita per tahun, dengan perusahaan nasional menguasai 70% pasar.

Obat-obatan dengan resep dokter berkontribusi 59% atau sebesar US$ 2,7 miliar dari keseluruhan pasar. Sementara obat bebas menyumbangkan sebesar 41% atau US$ 1,9 miliar.


Luthfi Mardiansyah, Ketua Umum IPMG, menilai industri obat-obatan dengan resep dokter di Indonesia akan mengalami penurunan pada tahun ini. Hal ini disebabkan karena semakin banyak orang beralih ke obat generik di bawah skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). "Faktor lainnya adalah perkiraan peningkatan biaya produksi, mengingat 95% bahan mentah obat-obatan tersebut masih diimpor," ujarnya, Selasa.

-----------------------------------------------
Simak juga:
1) Realisasi Pertumbuhan Industri Farmasi Indonesia 2014
2) Opini: Obat Wajib Halal? 
-----------------------------------------------

Dia mengatakan, menurut data Kementerian Kesehatan pada 2014, ada 206 perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia, terdiri dari empat perusahaan BUMN, 26 perusahaan multinasional, dan 176 perusahaan lokal. “Dari data Kemenkes tersebut, pertumbuhan nasional rata-rata penjualan obat dengan resep dokter per tahun diperkirakan sebesar 11,8%," ujar Luthfi.

Dia juga mengatakan, industri farmasi termasuk salah satu sektor yang memiliki ketergantungan impor bahan baku tinggi hingga mencapai 95%. Ini akan menyebabkan depresiasi mata uang rupiah jelas mendongkrak ongkos produksi. "Saat ini untuk membeli bahan baku dalam jumlah yang sama, biaya yang disediakan harus lebih besar," katanya.

Namun kondisi itu tertolong proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Fase ini menghasilkan nilai tambah sehingga kenaikan ongkos impor bahan baku dapat diakomodasi produsen obat.

Di tengah ketergantungan impor bahan baku dan perlambahan pertumbuhan obat resep, daya tarik investasi industri farmasi tak surut. Bersama dengan industri kimia dasar dan barang kimia lain, farmasi menjadi bidang usaha dengan kucuran PMDN terbesar kelima dan keempat untuk PMA selama 2014.

Proyeksi IPMG sejalan dengan prediksi Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi). Dorodjatun Sanusi, Direktur Eksekutif GP Farmasi, optimis industri farmasi nasional tumbuh 9%-11% tahun ini. Pasalnya, permintaan obat dari program JKN akan menopang permintaan obat yang semakin meningkat.

“Program JKN membuat produsen obat-obatan menambah kapasitas produksi seiring bertambahnya permintaan,” kata Dorodjatun kepada redaksi.

Tetapi, lanjut Dorojatun, bersamaan dengan itu, pendapatan tidak ikut naik lantaran produk yang diproduksi adalah obat dengan harga relatif terjangkau. “Secara jangka panjang program JKN akan menciptakan keseimbangan baru di industri farmasi. Sekarang penggunaan obat di rumah sakit menjadi lebih efisien,” lanjutnya.

Dia juga memperkirakan aliran investasi ke sektor farmasi pada tahun ini masih cukup deras, tetapi tidak sebanyak investasi pada 2013. Kalangan industri farmasi berharap pemerintahan baru mampu menghadirkan stimulus bagi pertumbuhan industri farmasi untuk menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi. "Industri farmasi ke depan harus menjadi bagian dari penyokong pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat pemain nasional sudah mempunyai kualitas untuk memenuhi pasar Asean,” kata Dorojatun.

Konsistensi Kebijakan
Parulian Simanjuntak, Direktur Eksekutif IPMG, mengatakan untuk meningkatkan pertumbuhan industri farmasi, pemerintah harus mulai fokus dan konsisten dalam menelurkan setiap kebijakan. “Investasi terbuka lebar, tetapi pemerintah juga harus tahu saat ini investasi sulit masuk karena regulasi yang mendukung itu minim. Menteri yang baru diharapkan mendukung industri, menciptakan regulasi yang memudahkan investasi masuk,” kata Parulian.

Industri farmasi dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan rerata di atas 10%. Lewat pertumbuhan pasar yang begitu besar, industri farmasi nasional memerlukan penambahan investasi terutama berkaitan dengan industri bahan baku yang saat ini ketergantungan impor masih di atas 90%.

Parulian mengatakan, industri farmasi nasional masih berkutat dengan model formulasi dengan standar yang tinggi. Pihaknya optimis dengan adanya industri hulu untuk menopang farmasi nasional, serapan pasar tidak hanya memenuhi nasional tetapi juga Asean.

Dengan peningkatan peraturan dari Badan POM mengenai aturan industri farmasi yang berdampak pada ketatnya aturan dalam industri ini. Akan tetapi, dengan adanya aturan ketat ini, entry barrier untuk industri farmasi nasional semakin kuat. Untuk kawasan Asean, Singapura dan Malaysia disebut negara yang paling ketat dalam industri farmasinya, sedangkan untuk Thailand dan Philipina masih berada di bawah Indonesia.

“Pemain multinasional terus beradaptasi dengan aturan yang diberikan pemerintah, dan hingga kini mereka siap. Bahkan sejauh ini, ekspor kebeberapa negara yang mempunyai standardisasi ketat pun mampu dilalui,” tuturnya.

Menurut data Frost & Sullivan, pertumbuhan pasar farmasi nasional diperkirakan mencapai 10,3% compounded annual growth rate (CAGR) 2011-2015, dengan nilai pasar mencapai US$ 7,1 miliar di 2015. Pertumbuhan pasar farmasi Indonesia melampaui pasar farmasi Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia yang masing-masing tumbuh rata-rata per tahun sebesar 7%, 2%, 7%, dan 2%. Namun pertumbuhan pasar farmasi Indonesia masih di bawah pasar farmasi China yang tumbuh 21% CAGR 2011-2015, India 19%, dan Malaysia 11%.

Proyeksi pertumbuhan pasar farmasi nasional juga di atas rata-rata pertumbuhan pasar farmasi di Asia Tenggara yang tumbuh 9,6% per tahun. Pasar farmasi di Asia Tenggara mencapai US$ 16 miliar di 2011 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 23 miliar di 2015. (dbs)

Top Ad 728x90