Semester II 2012 : Impor Bahan Baku Farmasi Turun 33%

Di semester II tahun 2012, impor bahan baku farmasi diperkirakan mencapai Rp 4,92 triliun, turun 33% dibanding proyeksi semester I 2012 sekitar Rp 7,38 triliun. Menurut GP Farmasi, penurunan itu terjadi karena rata-rata bahan baku impor sudah didatangkan oleh produsen sepanjang kuartal I hingga akhir kuartal III 2012, sehingga impor di akhir tahun ini relatif kecil.

Semester II 2012 : Impor Bahan Baku Farmasi Turun 33%
Di semester II tahun 2012, impor bahan baku farmasi diperkirakan mencapai Rp 4,92 triliun, turun 33% dibanding proyeksi semester I 2012 sekitar Rp 7,38 triliun. Menurut GP Farmasi, penurunan itu terjadi karena rata-rata bahan baku impor sudah didatangkan oleh produsen sepanjang kuartal I hingga akhir kuartal III 2012, sehingga impor di akhir tahun ini relatif kecil.

Menurut Ketua PMMC Kendrariadi Suhanda, menurunnya impor di akhir tahun juga karena produsen bahan baku umumnya menghindari buffer stock.

Ia menuturkan produsen farmasi umumnya mengimpor bahan baku secara besar-besaran di awal tahun, dengan asumsi telah dialokasi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku hingga akhir tahun, sesuai proyeksi kebutuhan masing-masing produsen. "Itu merupakan tren yang selalu terjadi setiap tahun," tambah Kendrariadi. Dengan adanya proyeksi kebutuhan, maka produsen tidak akan mengalami kekosongan bahan baku hingga akhir tahun.


Tahun ini, impor bahan baku farmasi diperkirakan mencapai Rp 11,9 triliun-Rp 12,3 triliun, meningkat 11%-15% dibanding tahun lalu Rp 10,7 triliun. "Kenaikan impor bahan baku mengikuti proyeksi pertumbuhan industri farmasi nasional tahun ini," kata Kendrariadi.

Target pertumbuhan tahun ini juga mengacu pada pertumbuhan pada tahun lalu yang mencapai 13%. Kendrariadi menilai pertumbuhan yang stabil antara tahun ini dan 2011 juga karena harga jual bahan baku farmasi yang diperkirakan stagnan sepanjang dua tahun terakhir.

Stabilnya harga juga disebabkan karena persaingan antar produsen bahan baku farmasi di luar negeri yang semakin ketat. Dengan persaingan yang ketat akan terbentuk harga pasar untuk bahan baku yang menjadi patokan harga jual bahan baku.

Kenaikan impor bahan baku juga seiring target pertumbuhan penjualan sejumlah perusahaan farmasi, seperti PT Kalbe Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. Kedua perusahaan itu menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 20%-25%.

"Target kenaikan itu karena perseroan melihat tidak ada faktor yang bisa menghambat pertumbuhan secara signifikan," kata Vidjongtius, Direktur Keuangan Kalbe Farma. Pertumbuhan itu didukung langkah perseroan meluncurkan 15 produk baru pada tahun ini. "Produk baru ditargetkan berkontribusi 1%-2% terhadap penjualan," ujar Vidjongtius. Sementara faktor harga akan berkontribusi 5%-6% terhadap target penjualan.

Sementara Indofarma berencana meluncurkan 16 produk baru pada tahun ini, untuk mendukung pertumbuhan penjualan hingga akhir tahun. Jumlah produk baru itu meningkat dibanding tahun lalu yakni 4 produk baru. "Investasi untuk peluncuran produk baru tahun ini mencapai Rp 25 miliar," kata John Sebayang, Direktur Keuangan Indofarma. Investasi untuk produk baru itu antara lain akan digunakan untuk pengujian bioequivalency. (erw)

Top Ad 728x90